Selasa, 05 Februari 2008

Pergantian Tahun

Assalamu'alaikum
Bandung, malam pergantian tahun 2007 menuju 2008 penuh sesak oleh anak-anak muda yang berusaha mengekspresikan dirinya. Ditambah dengan adanya game yang diadakan oleh satu perusahaan telekomunikasi, yang mencoba mencari anak muda dengan penampilan terheboh malam itu. Sayang sekali mendekati menit-menit pergantian tahun, sekitar jam 11 malam turun hujan deras banget. Tentu banyak yang kecewa berat. Sudah tampil heboh, badan dicat semua, belum sempat mengeluarkan semua kemampuan untuk menjadi yang terheboh, hujan sudah turun. Ekspresi diri? Teman yang semobil denganku menyatakan bahwa hal itu merupakan suatu hal yang penting, acara tersebut menurutnya juga merupakan sarana untuk bersosialisasi bagi generasi muda. Benarkah?.

Jam 23.15 nyampe kilometer 89 menuju Jakarta melalui tol Padalarang, istirahat sebentar untuk melepas lelah dan melakukan kewajiban yang tertunda untuk urusan dunia. Sambil menikmati sebungkus roti dan sebotol teh rasa markisa, jam 12 malam kurang seperempat berangkat lagi menuju Jakarta, tak terasa pergantian tahun terlewatkan begitu saja didalam perjalanan menuju Jakarta. Memasuki 2008 terasa biasa saja, meski terbersit dihati suatu harapan besar untuk dapat melakukan perubahan yang lebih baik di tahun ini.

Memasuki pergantian tahun ini, saya berharap, Allah meridhoi semua langkahku, dengan bimbingan-Nya, dan atas garis ketentuan-Nya aku memulai sesuatu yang baru di Ibukota negeri ini. Dengan jenis pekerjaan yang sangat jauh dengan apa yang biasa saya lakukan selama ini.

Dalam menapaki karier baru ini saya benar-benar dituntut untuk menuangkan dan mencurahkan segenap kemampuan dan potensi yang saya miliki untuk membantu usaha yang dilakukan orang lain, untuk mencapai tingkat kesuksesan yang lebih tinggi, dari apa yang terkadang bisa mereka harapkan.

Meski kalau menoleh kebelakang, apa-apa yang sudah saya lakukan, untuk menapaki hidup, menjadikan saya lebih dewasa dan bisa menatap masa depan lebih optimis.
Masa lalu bisa ditoleh untuk menjadikan kita supaya lebih berhati-hati dalam segala hal. Dalam bertindak, berbicara maupun dalam semua hal.

Pengalaman hidup yang sudah dialami, tidak boleh disesali, tetapi dijadikan cambuk untuk terus memacu diri menjadi insan yang lebih bermanfaat baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun bagi lingkungan yang bersinggungan dengan kita.

Motivasi hidup terkadang memang harus tumbuh dari sesuatu yang menurut ukuran manusia menyakitkan, meskipun didalam perjalanan yang menyakitkan tersebut, Allah lebih mengetahui mana yang terbaik untuk kita. Kita terlalu sering mengukur segala sesuatu dari kaca mata nafsu, yang selalu meminta sesuatu yang nyaman. Tetapi kita tidak pernah atau jarang membandingkan dengan nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Tahukah anda apa nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada kita?

Padahal dengan kesulitan dan cobaan yang kita hadapi tersebut, Allah menempatkan kita pada karpet Rahmat-Nya, Tergantung pada kita saja, mau memanfaatkan kondisi ini atau tidak.

Dalam do’a-do’a kita sering kali kita memohon untuk memperoleh rezeqi yang cukup, yang manfaat, yang membawa keberkahan untuk diri kita maupun untuk perjuangan kita. Tetapi bentuk rezeqi yang sebetulnya sudah kita terima seperti tidak pernah kita sadari.

Manusia serigkali mengukur rezeqi itu dengan uang yang berlimpah. Padahal rezeqi itu tidak hanya berupa uang. Yang kita minta rezeqi, tapi yang kita inginkan harta, sesuatu yang berbeda pada substansinya. Rezeqi yang kita terima bisa merupakan kesempatan untuk terus mendekat pada Allah, dengan cobaan yang selalu Allah berikan, sementara hati kita selalu meronta memohon lepas dari segala cobaan, untuk menerima harta yang lebih sering menjauhkan kita dari Allah, sungguh naif .

Nikmat kesehatan, coba kalau kita berhitung, berapa nilainya ?. Ada suatu cerita, Ada seorang ahli ibadah, yang mana dia mencurahkan seluruh waktunya, seluruh hidupnya dengan menyendiri pada daerah terpencil hanya untuk beribadah kepada Allah. Suatu ketika ahli ibadah tersebut meninggal dunia. Dikisahkan, orang tersebut menuntut balasan sorga atas semua ibadah yang ia lakukan selama ini. Dia merasa sangat layak dan pantas untuk mendapatkannya. Tunggu dulu !!, Allah memerintahkan malaikat untuk menimbang sebelah bola mata ahli ibadah itu dibandingkan dengan seluruh amal ibadahnya selama hidup didunia. Alangkah terkejutnya ahli ibadah tersebut, ternyata nikmat Allah yang berupa penglihatan yang tersalur ’masih’ dari satu bola mata yang selama ini ia nikmati dan gunakan hanya untuk beribadah jauh lebih berat. Artinya amal ibadah yang selama ini kita lakukan didunia ini tidak sebanding dengan nikmat yang telah diberikan Allah tanpa kita minta !.

Pun juga ternyata sorga yang kita harapkan untuk dapat kita masuki dengan mengandalkan amal ibadah yang telah kita lakukan tidak bisa dan tidak layak kita peroleh. Kesimpulannya adalah bahwa kita dimasukkan ke dalam sorga benar-benar karena Rahmat yang Allah, bukan karena amal ibadah kita.

Terus ada pertanyaan, kalau amal ibadah bukan faktor yang menentukan masuk sorga kita , untuk apa amal ibadah itu dilakukan?

Ingatkah anda ayat yang berbunyi wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun (Surat dan ayatnya saya cari dulu) yang artinya bahwa Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah.

Hanya untuk beribadah, inilah kata kuncinya.

Semua segi, perilaku dan perbuatan kita harus bernilai ibadah, selain dari ibadah berarti melakukan perbuatan maksiyat. Oleh karena itu kita harus benar-benar menambah khazanah ilmu dan pengetahuan kita agar mengetahui bagaimana caranya semua segi kehidupan kita bernilai ibadah.

Ada sebuah hadits yang berbunyi innamal a’malu binniyyat, yang artinya bahwa semua amal itu tergantung dari niatnya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa amal seorang muslim itu tergantung dari niatnya. Niat juga dikatakan sudah lebih dari 50% amal kalau untuk kebaikan. Ada riwayat hadits juga yang mengatakan bahwa apabila kita berniat untuk melakukan sebuah kebaikan, maka Allah sudah mencatat niat itu dan memberikan 1 pahala kebaikan atasnya, apabila dilaksanakan maka akan ditambah lagi dengan satu pahala kebaikan. Tetapi apabila niat itu buruk, maka tidak dihitung, tetapi apabila niat buruk itu dilaksanakan, baru dihitung melakukan satu keburukan.

Ibadah sendiri itu juga merupakan perwujudan rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Bahkan pada suatu pengajian yang pernah saya ikuti, disebutkan bahwa apabila kita mengingkari nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita, Allah memberikan peringatan yang sangat keras yaitu : ‚’kalau kamu mengingkari nikmati nikmat-Ku, carilah tuhan lain selain Aku, dan janganlah kamu tinggal di bumi-Ku’.
Sanggupkah kita tinggal selain di bumi Allah?

Banyak cerita-cerita menarik yang diriwayatkan oleh para ulama yang menceritakan mengenai hal ini, tetapi akhir-akhir ini sudah mulai banyak yang berusaha membantah cerita ini, dikatakan bahwa cerita-cerita tersebut tidak berdasar. Hadits yang menyatakan bahwa Ulama’ adalah pewaris Nabi seakan tidak digunakan lagi. Mereka berpendapat bahwa Ulama yang bisa dikatakan sebagai warosatul anbiya hanyalah para shohabat.

Memang jaman semakin akhir, ada satu hal yang paling ditakuti oleh Nabi Muhammad SAW pada akhir zaman ini, yaitu fenomena munculnya ulama’ syu’. Entahlah, apakah teman-teman sudah menggolongkan ulama yang ada sekarang ini masuk kategori seperti itu semua, sehingga mereka berpendapat seperti itu.

Padahal dari para ulama’ lah ilmu agama ini kita peroleh, melalui merekalah, ilmu yang Allah titipkan bisa sampai, sebagaimana tugas para Rosul untuk menyampaikan (Tabligh). Kalau mereka belajar dari buku, buku tersebut merupakan buah karya ulama, kalau mereka hanya mau mempelajari Qur’an dan hadits saja, Qur’an dan Hadits tersebut juga diterjemahkan oleh Ulama, Kalau belajar ilmu tafsir, itupun juga menurut subyektifitas munfasirnya, dan seterusnya.

Semoga tulisan yang terlalu sederhana ini bisa menambah wawasan dan kesadaran kita untuk terus meningkatkan kemampuan kita disegala hal. Dan kita selalu dengan mudah untuk mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan dengan senantiasa melakukan ibadah yang telah diperintahkan.

Meskipun agak terlambat untuk pemuatannya, karena berbagai permasalahan teknis, semoga tetap bermanfaat.

Wassalam


Albi

Tidak ada komentar: